METODE PENELITIAN AMetode Penelitian

1. Teknik Pengamatan (Observasi)
Observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan panca indera terhadap kegiatan yang sedang dilaksanakan. Dalam pelaksanaan observasi dapat dilakukan secara langsung peneliti ikut berpartisipasi dalam kegiatan dan dapat juga tidak ikut dalam kegiatan yang sedang diteliti. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Alwasilah. A.Chaedar (2000:155) bahwa:

“Teknik ini memungkinkan peneliti menarik inferensi (kesimpulan) ihwal makna dan sudut pandang responden, kejadian, peristiwa atau proses yang diamati. Lewat observasi ini, peneliti akan melihat sendiri pemahaman yang tidak terucap (tacit understanding), bagaimana teori digunakan langsung (theory-inuse), dan sudut pandang responden yang mungkin tidak tercukil lewat wawancara atau survai.”

Dalam pelaksanaan teknik observasi dilakukan dengan sistematis dimulai dari data yang sederhana sampai ke data yang luas dan rumit. Hal ini untuk mempermudah pemahaman hasil penelitian ini, dan memberi jalan untuk dapat menafsirkan kembali secara ilmiah.

Pada pelaksanaan penelitian, peneliti mempergunakan teknik observasi, dengan maksud untuk dapat mengamati lebih seksama unsur-unsur yang diteliti, dan kadang-kadang juga ikut serta menjadi bagian dari kegiatan tersebut (objek). Pelaksanaan penelitian memfokus pada proses pengelolan kekaryaan serta pemajangan karya seni rupa oleh siswa. Diantaranya observasi yang akan dilakukan bagaimana guru Seni Budaya

114 membuat desain pembelajaran yang menyangkut di dalamnya adalah pendekatan, metode pembelajaran Seni Rupa serta pengelolaan kekaryaan Seni Rupa siswa SMP dan sekaligus mengamati aktivitas siswa merespon dalam sistem pembelajaran pemajangan karya oleh, dari dan untuk siswa SMP itu sendiri.

Observasi dilakukan secara terus menerus sampai pada akhir peneliti mendapat data yang sesuai dengan yang diperlukan. Data tersebut sangat penting untuk mendapat pemahaman tentang konteks yang diteliti, memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktian dan mempertahankan pilihan untuk mendekati maslah secara induktif, dengan observasi peneliti dapat melihat hal-hal yang oleh responden sendiri kurang disadari, kurang keterbukaan, observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasaan pengamat/ peneliti akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.

Penelitian dilaksanakan secara berulang-ulang di sekolah, artinya pada saat para siswa SMP dalam merencanakan pemajangan di bawah bimbingan guru, kemudian mereka mendapat pembelajaran tentang bagaimana proses pelaksanaan pemajangan sampai pada tahap pengawasan pemajangan. Sedangkan peneliti mengamati dan sekaligus ikut dalam pelaksanaan proses pembelajaran tersebut. Kegiatan tersebut dilaksanakan sampai mendapatkan data yang diperlukan.

115 Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan terlibat, menjadikan peneliti berperan ganda artinya sebagai pengamat dan sekaligus orang yang diamati atau menjadi anggota kelompok subyek yang diteliti. Dalam hal ini peneliti melibatkan langsung dalam proses pengelolaan kekaryaan seni rupa oleh siswa bersama-sama guru Seni Budaya. Adapun cara berkomunikasi dan berinteraksi selama peneliti terlibat dalam waktu yang cukup lama dapat memberikan peluang bagi penulis untuk dapat melihat apa yang terjadi selama proses pembelajaran.2. Teknik Wawancara (Interview)

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang utama dalam penelitian kualitatif, melalui wawancara dapat dilakukan kegiatan percakapan langsung dengan responden. Sugiyono (2007) mengemukakan bahwa:

“Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.”

Usaha memperoleh data awal untuk pembelajaran pemajangan karya secara aktif adalah melakukan wawancara dengan stakeholderpendidik seni budaya yang berada pada tingkat SMP serta orang-orang terkait yang dimungkinkan dapat memberi informasi tentang solusi permasalahan yang diteliti seperti kepala sekolah, siswa, pembantu kepala sekolah bidang sarana, bidang kurikulum, serta guru lainnya. Setelah dilakukan wawancara, informasi yang diperoleh diolah dan dikonfirmasikan melalui tahap trianggulasi. Hal ini dilakukan untuk

116 memperoleh masukan mengenai kesesuaian data tersebut dengan kenyataan yang ada.

Berbagai macam bentuk wawancara dilakukan untuk mendapat data yang akurat. Esterberg dalam Sugiyono (2007: ) terdapat beberapa macam wawancara: wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur. (1) Wawancara terstruktur, teknik ini digunakan untuk mendapatkan data apabila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh; (2) Wawancara semiterstruktur, pemakaian teknik ini dimaksudkan untuk membuka permasalahan yang lebih luas sehingga diharapkan gagasan dan ide dari para responden/ informan tentang permasalahan tersebut; (3) Wawancara tidak berstruktur, ada dua jenis wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang berfokus dan wawancara bebas. Wawancara berfokus terpusat kepada satu pokok masalah tertentu, sedangkan wawacanra bebas pertanyaan yang beralih-alih dari satu pokok masalah ke pokok yang lain, sepanjang berkaitan dengan dan menjelaskan aspek-aspek masalah yang diteliti.

Dalam kontek penelitian implementasi pengelolaan kekaryaan seni rupa berorientasi aktivitas siswa, wawancara terstruktur dilakukan peneliti melalui kegiatan wawancara bersama kepala sekolah yang menjadi sampel penelitian (2) wawancara semi terstruktur dilakukan kepada guru Seni Budaya pada tiga SMP di Majalengka (3) wawancara bebas dilakukan kepada para siswa yang belajar di sekolah tersebut. . Teknik Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan menghimpun berbagai informasi berupa catatan- catatan, laporan, arsip dan peristiwa yang terekam, yang berhubungan dengan kegiatan yang diteliti kemudian menganalisisnya. Tujuan adalah mendukung dan melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara.

Studi dokumentasi yang dilakukan berupa penelaahan terhadap administrasi pembelajaran, pemotretan karya siswa yang dihasilkan, menelaah terhadap aplikasi pemanfaatan karya siswa oleh sekolah, penelaahan terhadap dokumentasi aktivitas kekaryaan seni rupa yang telah dilakukan siswa baik di sekolah atau di luar sekolah, dan aspek-aspek yang mendukung pada proses pembelajaran , berupa dukungan teman sejawat dan para siswa yang melaksanakan pembelajaran pemajangan karya oleh siswa secara aktif, proses pembelajaran dan pelaksanaan evaluasi.

Sugiyono (2007:329) memberi penjelasan bahwa dokumentasi merupakan catatan yang sudah berlalu. Dokumen bisa berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Melalui teknik ini peneliti melihat langsung serta memotret seluruh karya siswa yang dimiliki sekolah, memotret aplikasi karya siswa dalam menata lingkungan sekolah baik ruang belajar, ruang kepala sekolah, guru serta memotret tentang pengelolaan karya dalam bentuk pemajangan di ruang pemajangan karya seni rupa. Bertanya dan menelaah berbagai dokumentasi tertulis dan

118 gambar/ potret kegiatan berkarya seni rupa baik individu atau berkarya kelompok serta dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan hubungannya dengan pengelolaan karya seni rupa.

Studi literatur adalah usaha untuk menambah wawasan pengetahuan peneliti, dengan cara mencari, menemukan, membandingkan dan menjadikan teori-teori yang ditemukan menjadi pedukung penelitian yang dilaksanakan, terutama yang berhubungan dengan konsep kekaryaan dan pengelolaan kekaryaan seni rupa, media, materi pelajaran, proses pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi, baik yang didapat melalui buku, hasil penelitian orang lain (Skripsi, Tesis, atau Desertasi) jurnal, artikel, majalah, ensiklopedi, kamus, dan internet. Tujuan

dilakukannya studi literatur dimaksudkan untuk mengetahui konsep-konsep dan teori yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan penelitian, sedangkan fungsi studi literatur adalah memberikan argumentasi yang kuat yang dapat dijadikan dasar-dasar teori terhadap penelitian, memotivasi peneliti untuk mencari dan mendapatkan hasil penelitian yang valid dan berkualitas, sebagai bahan pijakan, penuntun dan mengarahkan peneliti kepada fokus permasalahan yang ditelitinya.