Cara Mudah Membaca Jangka Sorong

Jangka sorong atau disebut juga dengan vernier caliper adalah alat ukur teknik yang digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda, celah, atau kedalaman dari suatu lubang. Bentuk jangka sorong ini seperti penggaris namun terdapat dua buah skala yang digunakan untuk membaca hasil pengukuran.

Namun, tak banyak yang tahu bagaimana cara membaca hasil pengukuran dari jangka sorong ini. Oleh sebab itu, diartikel ini kita akan bahas panduan lengkap membaca hasil pengukuran pada jangka sorong.

Meski jangka sorong dan micrometer hampir sama (fungsinya) ternyata cara membacanya sangat berbeda. Secara umum, jangka sorong membutuhkan ketelitian lebih tinggi dari mata kita.

Cara Membaca Hasil Pengukuran Jangka Sorong
Langkah awal untuk membaca hasil pengukuran jangka sorong, anda perlu menngenali dua bagian utama dari alat ukur ini. Ada dua skala pada jangka sorong yakni skala utama (main scale) yang berada pada mistar utama dan skala vernier/skala nonius pada mistar geser.

Prinsip utama pengukuran pada jangka sorong adalah dengan melihat garis pada skala nonius yang paling lurus dengan garis pada skala utama.

Dalam contoh dibawah ini, terdapat dua jenis jangka sorong yakni jangka sorong ketelitian 0,05 mm dan 0,02 mm. tentu saja cara membacanya sama namun pada jangka sorong ketelitian 0,02 mm perlu ketelitian mata lebih tinggi.

Perlu dicatat juga kalau contoh dibawah ini menggunakan satuan mm (milimeter), ada beberapa jangka sorong yang memiliki satuan inch dan cm, namun yang dicontohkan dibawah adalah satuan mm agar lebih mudah dicerna.

1. Jangka sorong ketelitian 0,05 mm
Perhatikan gambar diatas, terdapat dua garis yang ditandai. Garis pertama yang lurus dengan 0 pada skala nonius menunjukan angka kepala dari hasil pengukuran. Pada gambar tersebut, garis 0 ini sudah melewati angka 55 pada skala utama, artinya angka kepala dari hasil pengukuran ini adalah 55 mm.

Sementara pada tanda kedua, anda akan melihat dua garis pada skala utama dan skala nonius yang terletak sejajar lurus daripada garis-garis yang lain. Posisi garis ini akan menandakan angka desimal dari hasil pengukuran.

Dari gambar diatas, yang dilihat ada pada sisi skala nonius jadi meski garis yang lurus itu memiliki angka 80 pada skala utama dan angka 6 pada skala nonius, yang kita pilih adalah angka 6 pada skala nonius. Artinya angka desimal hasil pengukuran adalah 0,60 mm.

Sehingga hasil pengukurannya tingga ditambahkan, 55 + 0,60 = 55,60 mm.

Kalau anda masih bingung, coba lihat contoh kedua dibawah. Angka kepala menunjukan nilai 56 mm sementara angka desimal menunjukan nilai 0, 35 mm (bisa anda lihat pada garis skala nonius yang lurus dengan garis pada skala utama)

Sehingga hasilnya 56 + 0,35 = 56,35 mm.

2. Jangka sorong ketelitian 0,02 mm
Sama prinsipnya dengan jangka sorong ketelitian 0,05 mm namun garis pada skala nonius itu lebih banyak dan lebih dekat jaraknya. Ketelitian 0,02 mm artinya nilai pada tiap garis skala nonius itu 0,02 mm. Pada contoh dibawah maka akan menunjukan hasil :

Angka kepala menunjukan nilai 6 mm, sementara pada skala nonius ada 4 garis setelah garis 5, artinya sesuai dengan ketelitiannya angka desimal pada skala nonius itu 0,5 + (4×0,02) = 0,58 mm.

Maka hasil pengukurannya adalah 6 + 0,58 = 6,58 mm.

Mungkin anda akan menemui hasil pengukuran seperti pada gambar dibawah, dimana garis yang lurus itu ada pada angka 0. Ini artinya, angka kepala sesuai garis yang ditunjukan yakni 9 mm dan angka desimal karena garis yang lurus itu 0 maka nilai desimalnya 0,00 mm.

Maka hasilnya 9,0 mm.

Itu saja artikel singkat tentang panduan membaca jangka sorong, semoga bisa menambah wawasan kita semua. Terimakasih sudah mampir, jangan lupa share ya, jika kalian ingin bertanya silahkan komentar dibawah ya..

Sumber artikel :autoexpose.org

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Submit Rating

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.