Pengertian Rumus Dan Cara Menghitung BEP Yang Perlu Dipahami Oleh Pengusaha

Cara menghitung BEP dengan benar

Istilah BEP tentu sudah tidak asing di telinga para pengusaha. Lantas, bagaimana cara menghitung BEP yang benar?

Dalam ilmu bisnis dan ekonomi, Break Even Point atau yang biasa disingkat BEP adalah sebuah istilah yang cukup populer. BEP kerap dijadikan tolak ukur saat seseorang berinvestasi atau menjalankan sebuah bisnis.

Di Indonesia, BEP juga sering disebut dengan titik impas atau balik modal. Ya, meskipun dalam ilmu ekonomi, balik modal lebih tepat jika disebut return of investment.

Sebagaimana dikutip Kompas.com dari Bankrate, BEP merupakan titik impas yang mengacu pada jumlah pendapatan yang diperlukan untuk menutup total biaya yang sudah dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu. Ini meliputi biaya tetap dan biaya variabel.

Di saat bersamaan, BEP juga dianggap sebagai titik ketika pendapatan sebuah perusahaan sudah sama persis dengan perkiraan total biaya, di mana kerugian telah berakhir dan perusahaan tinggal mengumpulkan keuntungan saja. Penjelasan singkatnya, BEP adalah ketika semua biaya yang telah digelontorkan untuk produksi bisa ditutupi oleh pendapatan yang dihasilkan dari penjualan produk.

Baca juga: Pelaku Usaha, Inilah Contoh Surat Niaga yang Perlu Kamu Tahu dan Pahami!

Cara menghitung BEP harus dilihat dari empat komponen, antara lain:

– Biaya tetap atau fix cost. Adalah biaya yang harus tetap dikeluarkan oleh perusahaan meski jumlah produksi mengalami perubahan. Contoh: gaji karyawan, biaya sewa tempat, biaya penyusutan, bunga bank, dan lain sebagainya.

– Biaya variabel, yakni biaya yang besarannya proporsional sesuai dengan volume produksi. Contoh: upah lembur, biaya bahan baku, BBM, dan lain sebagainya.

– Pendapatan atau revenue, yakni total uang yang diterima dari hasil penjualan.

– Laba alias profit, yakni selisih antara total penghasilan dikurangi dengan biaya tetap dan biaya variabel.

Dalam akuntansi, BEP digunakan untuk menemukan persamaan di mana biaya yang dikeluarkan untuk produksi barang sesuai dengan pendapatan yang diperoleh dalam satu periode. Cara menghitung BEP sendiri bisa dilakukan dengan dua metode, yaitu dengan BEP Unit atau BEP Nominal (Rupiah).

Baca juga: Wajib Paham, ini Cara Mengetahui Kode Klasifikasi Lapangan Usaha Pajak!

Berikut kami sajikan contoh kasusnya. Misal, Andi memiliki toko pakaian dengan ketentuan biaya produksi sebagai berikut:

Biaya tetap : Rp 5.000.000

Biaya variabel : Rp 30.000

Harga jual per unit : Rp 200.000

Cara menghitung BEP Unit
BEP = Biaya Tetap / (Harga Per Unit / Biaya Variabel Per Unit)

Jika diaplikasikan:

BEP = 5.000.000 / (200.000 – 30.000)

BEP = 29,4 unit (Dibulatkan menjadi 30 unit)

Artinya, Andi disebut telah balik modal apabila ia bisa menjual 30 pakaian dalam sebulan dan akan memperoleh keuntungan lebih dari penjualan tersebut.

Cara menghitung BEP Nominal
BEP = Biaya Tetap / (Kontribusi Margin Per Unit / Harga Per Unit)

Jika diaplikasikan:

BEP = 5.000.000 / (Harga Jual – Biaya Variabel Per Unit) / Harga Per Unit

BEP = 5.000.000 / (200.000 – 30.000) / 200.000

BEP = 5.000.000 / 0,9

BEP = Rp 5.600.000

Artinya, Andi telah mencapai BEP jika angka penjualannya mencapai Rp 5.600.000.

Baca juga: Punya Usaha dan Ingin Cuan, Kamu Wajib Tahu Cara Menentukan Harga Jual Berikut ini!

Pertanyaan selanjutnya, apa manfaat menghitung BEP bagi perusahaan? Setidaknya, ada beberapa manfaat yang bisa didapat, seperti:

– Perusahaan bisa menentukan kapasitas produksi agar bisa mencapai keuntungan.

– Dengan menghitung BEP, perusahaan bisa melakukan efisiensi.

– Perusahaan bisa mengetahui perubahan harga jual, biaya, dan volume produksi.

– Penyesuaian jumlah penjualan dan harga barang produksi agar tidak rugi.

– Perusahaan bisa mendapatkan informasi dalam hal pengambilan keputusan.

Ya, itulah penjelasan lengkap mengenai cara menghitung BEP. Semoga bermanfaat!