zenduck.me: Sekilas Berdirinya ALMA ALMA PUTERA


Untung99 menawarkan beragam permainan yang menarik, termasuk slot online, poker, roulette, blackjack, dan taruhan olahraga langsung. Dengan koleksi permainan yang lengkap dan terus diperbarui, pemain memiliki banyak pilihan untuk menjaga kegembiraan mereka. Selain itu, Untung99 juga menyediakan bonus dan promosi menarik yang meningkatkan peluang kemenangan dan memberikan nilai tambah kepada pemain.

Berikut adalah artikel atau berita tentang Harian zenduck.me dengan judul zenduck.me: Sekilas Berdirinya ALMA ALMA PUTERA yang telah tayang di zenduck.me terimakasih telah menyimak. Bila ada masukan atau komplain mengenai artikel berikut silahkan hubungi email kami di [email protected], Terimakasih.

ALMA adalah singkatan dari Asosiasi Lembaga Misionaris Awam. Institut Sekulir Vincentian yang didirikan oleh Pastor Paulus Hendrikus Janssen, CM  di Madiun pada tanggal 17 Mei 1964  dan secara resmi diakui sebagai Institut Sekulir di bawah yurisdiksi Uskup Malang pada tahun 1967. St. Vincentius adalah santo pelindung ALMA.

Pada awalnya dua belas orang mahasiswa bersama-sama dengan Rm Janssen, termasuk Ibu Mudjiyah yang setia bersama Rm Janssen dan anak-anak melihat bahwa Gereja membutuhkan seorang misionaris awam di gereja Madiun mengikrarkan di depan altar menjadi misionaris awam. Misionaris awam adalah misionaris yang tidak dibayar oleh Gereja dan mempunyai jabatan/pekerjaan sendiri, tetapi juga sanggup untuk melayani orang lain. Itulah ALMA perdana.

Pada tgl 27 September 1960, setahun setelah Bhakti Luhur didirikan, mereka mencoba berkumpul menjadi satu perkumpulan kecil. Perhimpunan orang awam yang bekerja sendiri sesuai profesinya, dan sanggup melayani yang miskin dan terlantar baik jasmani dan rohani tanpa imbalan. Perkumpulan ini diberi nama ALMA: Akademi Lembaga Misionaris Awam.

Penyebutan Akademi pada permulaan pendirian ALMA terjadi karena ALMA didirikan oleh Rm. Janssen dengan pandangan bahwa untuk mencapai hidup sebagai misionaris awam dibutuhkan suatu pembentukan profesional yang mendalam. Kata ”awam” dipakai karena mereka menyorot misi umat sebagai awam yang perhatian melulu dan pertama-tama adalah untuk orang kecil, tanpa dibayar. Inilah ALMA yang bekerja secara profesional, tetapi bersama-sama mempunyai misi: misi awam, misi Umat, yaitu misi iman dan misi kasih.

Dimana ada Rm. Janssen, disitu pasti ada sekolah untuk membentuk tenaga pembina anak, orang miskin dan terlantar. Melihat kebutuhan anak-anak cacat untuk mendapatkan perawatan dan pelatihan yang benar, Rm. Janssen memulai suatu sekolah, yang diberi nama Sekolah Pembangunan Masyarakat (sekolah untuk membangun dan melayani masyarakat untuk mendapat ijazah). Sekolah ini mempunyai kurikulum khusus, yaitu melayani orang miskin dan anak miskin dan cacat yang kebutuhan dasar dan hak asasi manusianya tidak dipenuhi. Yang ditawarkan Rm. Janssen bukanlah pendidikan untuk menjadi pandai saja, tetapi pendidikan untuk bhakti. Di Madiun pada tahun 1962-1963 Rm. Janssen menemukan banyak putra-putri yang kelihatannya masih muda (sekitar 16-17 tahun) tetapi mempunyai semangat kasih. Mereka mengikuti program pembentukan di sekolah yang unik itu, lalu mempratikkannya dalam kebersamaan dengan anak-anak cacat Bhakti Luhur.

Lambat laun, jumlah siswa jauh lebih banyak daripada mahasiswa. Ternyata banyak dari mereka yang terpanggil untuk betul-betul menyerahkan hidupnya bagi Gereja. Semangat pelayanan awam dengan bhakti yang luhur ingin diwujudkan dengan hidup bersama anak-anak cacat dalam suatu komunitas dengan mereka untuk seumur hidup sesuai nasihat Injil.

Pada tahun 1963 ALMA berkembang menjadi asosiasi dengan tiga cabang: Asosiasi Lembaga Misionaris Awam; bukan akademi lagi. Sedangkan banyak pendatang yang tertarik untuk menjadi katekis bayaran dikumpulkan dalam suatu jurusan dari Widya Mandala Surabaya yang diberi nama : Fakultas Kateketik.

Dalam permulaan tahun 1964 sejumlah putra mulai menyatakan komitment mereka dalam Cabang ALMA yang kedua dengan nama ALMA PUTRA.

Anggota yang tidak bermaksud untuk hidup sebagai rohaniwan berkumpul dalam cabang yang ketiga yaitu ALMA KELUARGA.

Dengan demikian, lebih jelaslah siapa yang mau menyerahkan hidupnya untuk bekerja sebagai misionaris awam. Inilah permulaan dari ALMA yang sekarang. Dan ini berkembang, sebagai buah dari bhakti yang luhur, dipupuk dalam Bhakti Luhur. Di wisma-wisma Bhakti Luhur-lah, bhakti mereka diwujudkan.

Dalam usianya yang masih muda, ALMA langsung dihadapkan pada ladang panggilan mereka. Pada tahun 1964 terjadi kelaparan besar di sebelah selatan Slahung, Ponorogo, sampai dengan Pacitan. Ratusan desa betul-betul kelaparan, tetapi hal ini tidak boleh diberitakan kepada masyarakat umum. Akibatnya banyak orang meninggal. ALMA mulai hidup di tengah orang yang kelaparan. Kelompok itu, pada waktu itu terdiri dari sekitar 20-30 Putra dan Putri ALMA, melebur masuk ke dalam hidup penduduk. Mereka mulai menolong di sana dengan wisma kecil, sentrum kecil, bersama-sama dengan orang miskin menghadapi situasi yang tidak boleh dikenal dunia luar. Untuk penderita yang paling berat diadakan wisma H.O (Busung Lapar). Makin besarlah perhatian dan cinta ALMA terhadap kaum yang paling miskin.

Ketika itu ada banyak anak yang kehilangan orang tua, dan anak-anak sama sekali tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Anak-anak sakit dan cacat yang tidak mungkin dirawat di tempat, dibawa ke Madiun. Di Madiun, dibangun wisma-wisma kecil untuk menampung mereka. Tiap wisma mempunyai seorang ibu (ALMA) yang merawat anak-anak. Merekalah keluarga besar Bhakti Luhur.

Pada waktu di Madiun inilah, seorang anggota ALMA Putra wafat sebagai martir karena dibunuh oleh PKI ketika memberi makan kepada orang miskin.

Hijrah ke Malang

Setelah beberapa tahun berkarya di Madiun, Rm. Janssen sebagai pendiri ALMA meminta ALMA diakui sebagai komunitas di wilayah Keuskupan Surabaya. Ada perbedaan pandangan antara Rm. Janssen dengan Uskup Surabaya ketika itu. Uskup Surabaya tidak mau mengakuinya. Katanya, ”kalau mereka mau berbuat apa-apa, ya jadilah suster atau bruder; juga kalau mereka mau menyerahkan hidupnya untuk orang miskin dan anak cacat”. Tetapi Rm. Janssen berpendapat bahwa yang dibutuhkan dalam hal ini justru orang awam yang menyerahkan diri seutuhnya untuk sesama yang menderita. Karena mereka sekarang mempunyai panggilan dari Tuhan untuk tidak berkeluarga, perlu ada pengakuan dari Gereja. Pola pikir ini tidak sejalan dengan Uskup.

Tahun 1965-1966, selama setahun, Rm. Janssen menunggu pengakuan dari Uskup. Ketika dipastikan bahwa Uskup Surabaya tidak setuju, Rm. Janssen menemui Kardinal untuk minta pertimbangan. Kardinal mengarahkan Rm. Janssen untuk bertemu dengan Uskup Semarang, Mgr Darmojuwono Pr. Mgr Darmojuwono Pr mau menerima, tetapi di Semarang dan Yogya sendiri sudah banyak lembaga seperti ALMA. Mgr Darmojuwono lalu berjanji untuk membicarakan dengan Mgr A.E. Albers.,O Carm, Uskup Malang. Mgr Albers adalah orang yang terbuka sekali untuk keterlibatan kaum awam. Mgr Darmo berjanji bahwa jika Mgr Albers tidak mau menerima, Mgr Darmo akan menerima ALMA di wilayahnya.

Gayung rupanya bersambut. Mgr Albers menerima dengan senang hati kehadiran Rm. Janssen dan ALMA-nya. Rupanya Mgr Albers mempunyai perhatian besar untuk hal seperti ini. Hanya saja Mgr Albers mengajukan satu syarat yaitu beberapa komunitas ALMA dan anak-anak harus dipindahkan ke wilayah Keuskupan Malang, karena tidak mungkin dia mengakui suatu institusi di bawah Keuskupan lain. Rm. Janssen dengan senang hati menyetujui. Tanggal 26 Agustus 1967 menjadi sejarah ALMA. Pada tanggal itu Mgr Albers secara resmi mengakui ALMA sebagai Institut sekulir dibawah Yurisdiksi Keuskupan Malang dan menetapkan Jalan Dempo no 14 sebagai pusat ALMA yang pertama.

Di Malang, Rm. Janssen dengan ALMA dan anak-anak diterima dengan baik sekali. Mgr Albers sendiri memimpin retret dan misa untuk mereka. Ekaristi dilakukan di rumah sewa milik keluarga D. Lumakeki di Jalan Tapaksiring I/609, Samaan. Bahkan Mgr Albers memberi rumah di Jalan Dempo. Sementara Rm Janssen memilih untuk tinggal di kampung ALMA Putra. Akhirnya Mgr Albers membelikan rumah yang rusak dengan harga Rp 83.000 di Jalan Seruni 48 untuk ALMA Putra. Sedangkan untuk ALMA Putri disediakan rumah di Samaan belakang Susteran Ursulin, di dalam kampung juga. Rumah-rumah di daerah Seruni ditempati oleh banyak warga yang miskin. Ketika warga kesulitan keuangan dan menjual rumah-rumah mereka, ALMA membelinya. Akhirnya sedikit demi sedikit rumah-rumah disana menjadi milik ALMA yang luas seperti sekarang ini. Rumah-rumah yang semula kecil, kotor, dan kumuh dipoles menjadi wisma yang bersih.

Di tempat barunya, selain terus bergumul dengan anak cacat, Rm. Janssen tetap tidak bisa meninggalkan pendidikan rasul awam. Baginya untuk memajukan pastoral dan katekese, pendidikan rohani dan pembentukan diri harus menjadi prioritas utama. Mgr Albers rupanya memiliki cita-cita yang sama. Keduanya kemudian mendirikan institut yang sekarang bernama Institut Pastoral Indonesia (IPI). Mereka ingin mempunyai katekis di paroki yang tidak dibayar. Bagi mereka, tanpa pendidikan kita tidak bisa mendidik orang-orang yang mendidik umat. Diharapkan katekis paroki tidak hanya menjadi guru agama tetapi menjadi gembala umat yang tidak dibayar. Kebutuhan hidup dipenuhi dari kerjanya sebagai orang biasa, sesuai profesinya.

Rm. Janssen menggarisbawahi betapa pentingnya pendidikan dan pembentukan. Menurut dia seorang dokter Rehabilitasi Medik tidak begitu saja merehabilitasi orang cacat tanpa tahu apa-apa mengenai bagaimana menangani orang buta, tanpa tahu mengenai anatomi tubuh. Harus ada pendidikan. Kalau kita mau ada misionaris awam, kita harus mendidik. Kalau seseorang bekerja dalam rehabilitasi, dia harus profesional di bidang rehabilitasi. Bidang Pastoral pun sama. Kalau tidak ada pendidikan, tidak bisa. Kedudukan orang-orang awam dalam kegiatan Gerejawi adalah sebagai ”Basic Christian Community”, komunitas basis Kristiani. Komunitas basis tiap orang berbeda-beda.

Bersama dengan pendirian IPI, Rm. Janssen mendirikan lembaga bernama Institut Pembangunan Masyarakat. Se-sungguhnya kata ”Masyarakat” tidak sesuai dengan bahasa Inggris-nya, Institut of Community Development. Namun saat itu di Indonesia memang kata-kata komunitas belum terlalu sering digunakan. Dalam bahasa Inggris dan Prancis ada kata ”community”. ”Community” bukan berarti masyarakat. ”Masyarakat adalah `society`. Sementara kita ini adalah basic community, komunitas basis,” kata Rm. Janssen. Basic Community yang kategorial terdiri dari orang-orang dengan dasar yang sama, punya panggilan yang sama, dan bergerak bersama. Bukan mengatasnamakan organisasi, tetapi dengan satu prinsip bekerja bersama. Inilah yang menghidupkan masyarakat.